Info Penting : Cermat Membaca Label Kemasan Makanan


Agak terhenyak membaca mailist [sehat] Digest Number 20357 siang ini.. topiknya tentang cermat membaca label kemasan makanan. Sebagai seorang yang tak punya banyak waktu lama untuk membaca satu-satu label kemasan makanan (kadang juga ga inget), ada baiknya kita simak 'surat' yang satu ini :
Tue Jul 23, 2013 7:56 pm (PDT) . Posted by:
"Nurmila Habibie" milahabibie
Dear all
Masalah label pada makanan dan minuman ini, saya sekeluarga termasuk yg
alhamdulillaah bbrp thun blkgn ini sering memperhatikan. Yang baru2 ini
saya temui di kemasan sirup A*C ada tulisan " tidak cocok untuk anak
dibawah 5 tahun, ibu hamil, dan menyusui" . Asli, kaget banget saya..
soalnya ni sirup kan minuman masa kecil kalo momen2 spesial kayak bulan
ramadhan gini dan lebaran. Baru tahun ini saya perhatikan baik2 labelnya.
Tulisan peringatan ini sdh ada dari dulukah? Atau baru2 saja?
Trus ada satu lg kejanggalan sy temukan di label kurma kemasan styrofoam
merk p**m f***t. Kurma ini impor. Pada tulisan bhs indonesianya, tertulis
"komposisi: buah kurma". Nah, pada tulisan englishnya tertulis
"ingredients: dates, glucose syrup, E202".. waduh, ini termasuk pembodohan
klo menurut saya. Gmn mnurut sps ?
Akur dgn pak'e label halal ini harus diperhatikan bener2. Krn ada bbrp merk
makanan dan minuman yg sdh berpuluh2 tahun di indonesia, tp tdk ada label
halalnya..
wassalaam
mila
Mengerikan bukan kalo ternyata ibu hamil dan menyusui, bayi dan balita terlanjur memasukkan zat yang tidak dibutuhkan tubuh tadi?? Seandainya zat yang tidak dibutuhkan tadi ternyata juga menyimpan potensi bahaya yang lain bagi tubuh bagaimana? Sayangilah minimal tubuh anda sendiri.. itu adalah salah satu cara bersyukur yang paling baik..

Mari jadi smart buyer dengan mulai memperhatikan label kemasan makanan. Bagaimana membaca Label Kemasan Makanan? beberapa tips membaca label kemasan ada di artikel ini :
Cermat Membaca Label Kemasan Makanan
HASIL survei Badan Pengawas Obat dan Makanan belum lama ini menunjukkan
kesadaran masyarakat membaca label pada kemasan pangan masih kurang.
Padahal, pada label kemasan itu terdapat informasi-informasi penting
soal kandungan yang ada dalam makanan.
“Tanpa membaca label, mungkin kita tak akan sadar telah mengonsumsi
zat-zat yang tidak kita perlukan, bahkan berbahaya bagi tubuh,“ ujar
dokter spesialis gizi klinik dr Grace Judio-Kahl SpGK dalam acara
bertajuk Kelas Membaca Kalori di Klinik Lighthouse, Jakarta, Rabu (17/7).
Grace menjelaskan kondisi tubuh yang berbeda-beda pada tiap individu
menyebabkan adanya perbedaan kebutuhan gizi dan pantangan terhadap
zat-zat tertentu. Misalnya, untuk orang gemuk, produk-produk pangan yang
mengandung olahan tepung, gula, dan minyak sebaiknya tak terlalu sering
dikonsumsi.
“Itu karena kalorinya tinggi. Gula, semua yang manis-manis, tepung dan
semua olahan tepung, terutama tepung putih, biasanya kalau enggak
digoreng pasti dikasih mentega. Itu membuat nilai kalorinya jadi gede,“
jelas wanita bertubuh mungil tersebut.
Grace menuturkan beberapa bagian yang harus diperhatikan pada label
kemasan makanan antara lain kandungan nutrisi (nutrition facts),
bahan-bahan yang digunakan (ingre dients), klaim gizi, jargon marketing,
dan angka kecukupan gizi (AKG) atau daily value.
Nutrition facts ialah informasi tentang nilai kandungan gizi suatu
makanan, meliputi takaran saji (serving size) dan jumlah takaran dalam
satu kemasan makanan, jumlah kalori, serta informasi kandungan gizi.
“Cermati jumlah total kalori, yang terdiri dari gula, protein, serta
lemak.” Ingredients atau isi merupakan
daftar bahan-bahan yang digunakan dalam membuat makanan tersebut.
Biasanya, bahan-bahan itu diurutkan berdasarkan jumlah/konsentrasinya.
“Perhatikan pula kandungan pengayanya yang biasanya ditulis dengan
‘diperkaya oleh’, kalori total, serta saturated fat (lemak jenuh).
Kini sudah banyak makanan dalam kemasan mencantumkan pula klaim
kesehatan. Misalnya kalimat ‘baik untuk kesehatan’ atau ‘rendah kalori,
tinggi kalsium’. Ada juga yang menu
liskan `0% Fat' (tanpa lemak) atau `0% Carb' (tanpa karbohidrat) .
Terakhir, konsumen sebaiknya memperhatikan persentase daily value atau
AKG. Rata-rata kebutuhan kalori orang dewasa Indonesia per hari sebesar
2.000 kalori.
Konsumen harus sadar zat apa yang paling dibutuhkan tubuhnya. Misalnya,
ia membutuhkan zat-zat seperti kalsium, serat, dan zat besi.
Lihat jumlah persentasenya, bila kurang dari 5%, berarti kandungannya
rendah, sedangkan bila mencapai lebih dari 20% berarti kandungannya
tinggi. Hal yang sama juga berlaku untuk kandungan total lemak jenuh dan
tak jenuh. “Sebaiknya konsumen mengurangi konsumsi lemak dan
natrium/sodium.“
Dijamin valid Grace juga menuturkan konsumen tak perlu cemas validitas
informasi pada label kemasan makanan. Menurutnya, produsen bertanggung
jawab penuh atas informasi yang diberikan kepada masyarakat. Tugas kita
sebagai konsumen hanyalah cermat dan cerdas dalam mengonsumsi suatu produk.
“Produsen itu dia memiliki kebijakan, pasti akan diaudit. Jadi yang
memeriksa dan mengeluarkan informasi AKG itu bukan produsen.
Biasanya ada badan lain seperti Badan POM dan Kementerian Kesehatan,“
jelasnya. (*/H-3)
sumber :
http://pmlseaepaper .pressmart. com/mediaindones ia/PUBLICATIONS/ MI/MI/2013/ 07/24/ArticleHtm ls/Cermat- Membaca-Label- Kemasan-Makanan- 24072013020020. shtml?Mode= 1#

Posting Komentar

0 Komentar